www.pidiejaya.co.nr

WEBSITE MASYARAKAT PIDIE JAYA SE JABODETABEK DAN SEKITARNYA

Masyarakat Pidie Jaya di Jakarta Jl. Raya Lenteng Agung no.18,Lenteng Agung,Jagakarsa,Jakarta Selatan  Telp. 78845567, Hp. 0811 905683 (Alauddinsyah), 08161908281 (M. Natsir) URL: http://www.pidiejaya.co.nr/ Email:bamuspidiejaya@gmail.com;pidiejaya.jkt@gmail.com

    Ratoh Bukan Saman

    Share

    Hidayatullah
    Admin Utama
    Admin Utama

    Jumlah posting : 48
    Join date : 14.04.09
    Age : 45
    Lokasi : Ulee Gle-Pidie Jaya

    Ratoh Bukan Saman

    Post by Hidayatullah on Thu 4 Nov 2010 - 14:34

    Oleh : Jauhari Samalanga
    Sumber: http://www.serambinews.com/news/view/40401/ratoh-bukan-saman

    SAMA, tari yang diaftarkan ke lembaga UNESCO, sekaligus usulam Wagub Aceh untuk jadi tari “tangan seribu” ini menjadi salah satu warisan dunia yang patut dijaga. Tak lama berselang, di Silang Monas Jakarta Tari Saman kembali digelar secara kolosal 1.050 remaja putri dari berbagai Siswa di Jakarta ikut memainkannya, tentu bukan sekedar menyedot kekaguman massa, tetapi juga berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI), Gubernur Aceh Irwandi Yusuf menerima langsung sertifikat MURI tersebut di Gedung Jakarta Theatre, Thamrin, Jakarta Pusat.

    Beritapun tersiar kemana-mana, sekaligus tarian ‘tangan seribu’ itu mengangkat prestise pemimpin di provinsi ini. Masyarakat di Pedalaman Aceh-di daerah Gayo terutama Gayo Lues topik ini menjadi pembicaraan dimana-mana, terutama dikalangan masyarakat yang fanatik terhadap tari Saman. Tentu, seperti biasa-ada pro dan kontra. Tari Saman Gayo yang terkenal ke seluruh dunia itu sangat jarang mendapat kesempatan di momentum-momentum besar, sehingga emosional primordial terkuah ke permukaan.

    Sebagai hiburan Saman memang menarik, terutama para penikmat seni. Beda halnya dengan kelompok yang memahami Saman, dua prestasi itu dipertanyakan. Termasuk para alit kita, pahamkah mereka dengan saman? Pahamkah filosofinya? Atau hanya sekedar tarian hiburan’ semata. Sehingga para orangtua yang paham halite menjadi miris hatinya jikaSaman dilekatkan sekedar symbol hiburan yang menjadi perempuan sebagai penari.Dulu dalam sejarah Saman Gayo ,tidak diperkenankan perempuan menjadi penarinya. Istilahdi Gayo disebut Sumang alias tidak baik dan tidak sopan, lantaran ritme Saman hanya untuk kaum laki-laki.

    Tentu,bukan bermakna orang Gayo anti penari perempuan. Di Takengon, kesenian didong juga dimainkan oleh kaum perempuan. Namanya Didong Banan. Dan dalam tari guel-biasanya penarinya itu laki-laki, tetapi yang mengendalikan musik Canang adalah perempuan-persis saat prosesi mengarak pengantin, sepanjang jalan perempuan memainkan musik canang ini (Musik Canang adalah alat musik yang terbuat dari logam berbentuk persis sebuah gamelan. Seperangkat musik canang antara lain Canang, Gong, dan Gegedem yakni perkusi menyerupai rebana). Sementara di Gayo Lues sendiri kesenian yang khusus menampilkan perempuan-perempuan muda dan cantik dinamakan tari ‘Bines’.

    Di sini,saya tak membahas Saman dari sisi filosofis, sejarah, dan perjalanannya karena porsi tersebut lebih dikuasai oleh pengamat tari Saman itu sendiri-atau baca tulisan Yusra Habib Abdul Gani berjudul Konsep Jihad Dalam Saman yang dimuat harian ini November silam dengan mengupas rinci masalah filosofi dan sejarahnya. Saya hanya mengingatkan “aikon” kesenian yang berubah wujud dan cenderung mematikan karakter tari-tari Aceh sejenis Saman lainnya. Semisal Saman berubah menjadi Ratoh-walau diritme gerak yang sama, tetapi kedua tarian itu tetap di jalur yang berbeda.

    Bagi dunia, semua tari jenis gerak serentak disebut Saman-dan hal itu dihalalkan oleh orang Aceh. Pada rekor MURI misalnya, sisi yang bisa ditarik benang merahnya terkait penghargaan tersebut barangkali hanya pada penari terbanyak saja, bukan pada Samannya. Tari yang dimainkan itu bernama Ratoh, dan bukan Saman. Tari Ratoh merupakan tarian yang dilakukan tanpa alat musik. Musik tarian ini berasal dari lagu yang dinyanyikan oleh sang penari. Para penari melakukan gerakan bersamaan dan dinamis ini dimainkan tujuh sampai Sembilan penari dengan satu penari melantunkan lagu, dia itu disebut Syeikh. Kemudian kekayaan ini ditarik menjadi satu saja, yaitu tari Saman.

    Seharusnya, setiap bentuk tari-walau mirip-haruslah bernama lain, agar karya yang terlahir lebih beragam. Ketika Tari Saman mendapat MURI misalnya, dan materi yang disaji justru ratoh, bisa dibayangkan perasaan seniman Ratoh yang telah memperjuangkan tari sebut habis-habisan. Ini seperti ucapan Pelantun hikayat Aceh Muda Balia, Manok nyang thoh boh, ***** nyang cok nan (Ayam yang bertelur sapi yang terkenal=mata sapi). Tentu, dalam hal ini, seniman Saman menolak perlakuan itu, lantaran konsep dalam tari Ratoh berbeda jauh dengan Saman.

    Di Jakarta dan sebagian Pulau Jawa Tari Ratoh ini sangat terkenal, karena memang ikut dipopulerkan institute Kesenian Jakarta (IKJ), dan kemudian pemahaman publik itulah Saman. Sementara pejuang seni Aceh di Institue Kesenian Jakarta-sejak almarhum Nurdin Daud lalu-tidak melakukan pembelaan apapun sehingga ya dia mengalir sebagai Tari Saman. Sedangkan kesenian Saman Gayo terpaku tak beranjak dari duduknya, hanya menjadi kesenian bersifat lokal. Kini di Jakarta, Tari Ratoh yang disebut Saman ini pun berkembang pesat hingga hampir suluruh Sekolah menengah memainkannya.

    Semua itu hanya pemahamana saja. Saya merasa kesenian di Aceh tidak berkembang layaknya budaya Aceh yang tersohor kemana-mana. Salah satu faktor dekadensi ini lantaran Aceh tidak membangun keberagaman keseniannya, semisal keberagaman nama-nama kesenian itu sendiri. Kalau saja kita mau jujur dengan dunia kesenian, maka kesenian Aceh memang telah mengalamai kemunduran sejak puluhan tahun lalu tatkala negeri ini dipimpin oleh pemimpin yang cuek terhadap kesenian, yang menempatkan kesenian hanya pada porsi ‘penghibur’ seremonial semata, maka itu awal dari dekadensi budaya-yang akhirnya berdampak pada tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan, dimana rasa curiga, rasa tidak percaya, dan sikap pesimis terus menggayuti.

    Sejak lama, Aceh melakukan kesalahan pada kesenian dan produk seni yang dilahirkan. Para perlu,misal, sulit menghidupi keluarga lantaran ada larangan dari para orangtua dulu, tidak boleh melukis wajah. Tapi sekarang disetiap rumah terpampang wajah-wajah sendiri. Begitu juga untuk seni pahat, yang dianggap hanya menghasilkan berhala. Di Negara-negara maju justru patung dibesarkan, karena dia bisa menjadi media komunikasi yang menggambarkan symbol dan watak masyarakat di negara itu. Lalu seni musik, dianggap sebagai seni gereja, sehingga di Aceh seni musik hanya menjadi latar untuk menggiringi tarian. Dan terakhir tidak membolehkan perempuan berkesenian di panggung karena dianggap ‘memamerkan’ aurat, tetapi kemudian masa itu berkembang kesenian panggung yang dimainkan kaum pria dengan melakoni diri sebagai wanita, persis di ‘Biola Aceh’ yang menjadi Nyak Maneh, atau pada sandiwara Aceh dengan tokoh bernama Cupo Mareuhoi. Mereka laki-laki yang berdandan wanita.

    Ekses masa lalu masih terasa sampai sekarang-apalagi Aceh sebagai daerah syariat Islam-kesenian panggung dengan syariat sering terjadi tolak tarik, kecuali hanya untuk kesenian-kesenian islami seperti Dikee, Dalail, Qasidah, Nasyid, dan lain-lain. Persoalan pertama muncul dijadwal pelaksanaan, malam atau siang hari. Kalau malam maka akan banyak pertanyaan, sementara siang hari dalam sebuah panggung menjadi kurang menarik, lantaran mengurangi kemegahan panggung.

    Tetapi itu menjadi ajang negosiasi yang menarik, karena kasus group Band Nasional Nidji beberapa tahun lalu misalnya, hingga sekarang masih menjadi pertanyaan besar, dimana salahnya? Padahal dalam pementasan Rebecca, semalam sebelum Band Nidji tampil, berjalan aman, Pertanyaannya , dimana kesalahan mendasar yang membuat Nidji kemudian diprotes Ormas Islam itu.

    Peristiwa-peristiwa di atas, pastilah akan bernasib sama dengan kekeliruan masa lalu soal karya seni. Aceh pasti akan mengalami kemunduran kesenian yang luar biasa gara-gara terlalu banyak persoalan yang dihadapi seniman dengan karya-karyanya. Sementara-bukan rahasia umum lagi-menjadi seniman di Aceh bukanlah profesi yang strategis, lantaran tidak bisa menghidupi. Dari dulu, profesi seniman ya begitu.

    Menjadi seniman memang karena niat, sementara profesi sebenarnya adalah petani atau nelayan, jadi tidak terlalu dipersoalkan secara ekonomi. Kecuali itu,perlu kesadaran agar menjaga kesenian ini. Karena tak mustahil suatu saat punah. Lihat saja sanggar-sanggar yang aktif, hidupnya bukan dari berkarya, tetapi bergantung pada sebuah tarian seremonial perkawinan, kalau di Aceh Pesisir dikenal dengan tarian Ranub lampuan, atau Guel di Gayo. Tari-tari begini hidup lantaran ada pesanan acara-acara seremonial perkawinan, sunatan, atau menyambut tamu penting.

    Upaya yang harus dilakukan, setidaknya untuk menghidupi seniman berkarya. Kita mesti menghargai Setidaknya Ratoh sebagai Ratoh dan Saman sebagai Saman.Begitu pula untuk jenis tari yang ada di Aceh, harus disesuaikan dengan nama aslinya, agar semakin hari semakin bertambah jenis kesenian Aceh. Aceh cukup licik, menjadikan Saman sebagai nama untuk semua jenis tari serentak, padahal dia memiliki pencipta, dan biarkan Saman menjadi kesenian yang paling membanggakan hati-turut melibatkan seniman-senimannya sebagai motor perkembangan dari Saman itu sendiri, demikian juga untuk kesenian Aceh lainnya, tetap mengedepankan senimannya. Nama dalam karya sanga penting, sehingga dia perlu dijaga.

    * Penulis adalah Inisiator Gayo Art Summit dan Lembaga Budaya Saman