www.pidiejaya.co.nr

WEBSITE MASYARAKAT PIDIE JAYA SE JABODETABEK DAN SEKITARNYA

Masyarakat Pidie Jaya di Jakarta Jl. Raya Lenteng Agung no.18,Lenteng Agung,Jagakarsa,Jakarta Selatan  Telp. 78845567, Hp. 0811 905683 (Alauddinsyah), 08161908281 (M. Natsir) URL: http://www.pidiejaya.co.nr/ Email:bamuspidiejaya@gmail.com;pidiejaya.jkt@gmail.com

UPACARA ADAT MEMBANGUN RUMAH: SEBUAH KEARIFAN MASYARAKAT ACEH

Share
avatar
Hidayatullah
Admin Utama
Admin Utama

Jumlah posting : 48
Join date : 14.04.09
Age : 46
Lokasi : Ulee Gle-Pidie Jaya

UPACARA ADAT MEMBANGUN RUMAH: SEBUAH KEARIFAN MASYARAKAT ACEH

Post by Hidayatullah on Thu 16 Apr 2009 - 17:55

UPACARA ADAT MEMBANGUN RUMAH: SEBUAH KEARIFAN MASYARAKAT ACEH



Oleh: Agus Budi Wibowo

Pendahuluan
Pada beberapa tahun terakhir, bangsa Indonesia dirundung oleh berbagai bencana. Bencana ini tidak hanya mengakibatkan hilangnya harta benda, tetapi juga menimbulkan jatuhnya korban jiwa manusia. Tidak terbilang nilai nominal akibat dari bencana yang terjadi. Bencana tersebut dapat disebutkan beberapa di antaranya berupa tanah longsor dan banjir.Terkait dengan dua contoh bencana di atas, banyak faktor yang dapat
dituduh sebagai penyebabnya. Selain karena faktor alam, tanah longsong dan banjir dapat disebabkan karena ulah manusia yang tidak dapat mengelola sumberdaya alam dengan baik. Alam dikelola dengan konsepserampangan dan tidak memperhatikan keseimbangan alam. Antara dayadukung alam dengan kebutuhan tidak perhatikan sehingga mengakibatkan alam mengalami degradasi dan kehancuran yang cukup parah. Setiap komunitas masyarakat di dunia biasanya mempunyai tata aturan di dalam kehidupannya. Tata aturan ini mengatur kehidupan manusia dalam kaitan dengan antar manusia, alam, dan Tuhan Yang Maha Esa. Tata aturan ini seringkali -disebut adat-istiadat Terkait dengan konteks tulisanini banyak studi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa masyarakat adatdi Indonesia secara tradisional berhasil menjaga dan memperkaya keanekaan hayati alami. Adalah suatu realitas behwa sebagian besar masyarakat adat ada yang masih memiliki kearifan adat dalam pengelolaan sumber daya alam. Sistem-sistem lokal ini berbeda satu sama lain sesuai dengan kondisi sosial budaya dan tipe ekosistem setempat. Mereka umumnya memiliki sistem pengetahuan dan pengelolaan sumber daya lokal yang diwariskan dan ditumbuhkembangkan terus-menerus secara turun temurun.1 Salah satu masyarakat adat di Nusantara yang mempunyaikearifan lokal adat adalah masyarakat Aceh. Banyak hal yang dapat diangkat terkait dengan masalah tersebut, tetapi kali ini penulis hanya memfokukan pada upacara adat dalam membangun rumah.

Upacara Adat Membangun Rumah
Upacara adat adalah sejenis kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat secara turun-temurun yang telah menjadi kebiasaan mereka. Upacara adat dalam mendirikan rumoh Aceh banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu dan Islam. Sebab di samping diadakannya do’a-do’a sesuai menurut ajaran Islam, dalam upacara tersebut juga terlihat adanya unsur-unsur kepercayaan terhadap roh-roh gaib dan benda-benda yang dianggap
keramat .
2 Upacara adat dalam mendirikan rumoh Aceh dilaksanakan secara tiga tahap. Pertama dilaksanakan pada saat pengambilan bahan-bahan rumah dari hutan. Tahap kedua ketika hendak mendirikan rumah dan tahap yang ketiga dilaksanakan upacara adat ketika rumah adat telah siap untuk dihuni/ditempati.

1. Upacara Pengambilan Bahan dari Hutan
Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa sebagian besar bahan-bahan rumoh Aceh seperti tiang dan papan dibuat di dalam hutan di mana bahan-bahan tersebut diambil, tujuannya tidak lain adalah untuk mempermudah pengangkutan bahan-bahan tersebut.
Dalam rangka pengangkutan kayu-kayu itu dari hutan biasanya disertai dengan melaksanakan upacara adat. Pengangkutan dilaksanakan secara bergotong-royong dengan mengundang sanak famili beserta masyarakat.
Bahkan dalam upacara tersebut selalu disertai dengan pemotongan korban seperti sapi, kerbau, kambing dan sekurqang-kurangnya pemotongan ayam atau itik. Tujuan dari pada pemotongan hewan korban tersebut adalah untuk menghindari terjadinya berbagai kemungkinan yang dapat menghalangi atau mempersulit pengambilan semua bahan perumahan tersebut.3 Di samping itu, tujuan pemotongan hewan korban itu tidak
lain adalah untuk lebih semaraknya acara jamuan makan bagi semua yang ikut dalam bergotong-royong itu.
Menurut kepercayaan orang Aceh,bahwa setiap tempat dipermukaan bumi ini, baik yang berada di daratmaupun yang berada di laut terdapat semacam makhluk halus (roh-roh)
yang menjaga atau menguasainya. Lebih-lebih wilayah yang berada dihutan. Untuk memasuki hutan dan mengambil isinya harus dipatuhi ketentuan-ketentuan adat yang berlaku, agar makhluk halus yang menguasai hutan itu bersedia memberikan keizinannya. Salah satu cara untuk memperoleh keizinan penguasa hutan tersebut adalah dengan cara
menyembelih hewan korban.Pertama kali kayu yang akan diangkut disatukan terlebih dulu kemudian diikat dengan rotan guna ditarik beramai-ramai. Untuk mempermudah penarikannya diberi landasan berupa kayu bulat sebanyak 2, 3 atau lebih. Setiap kayu landasan dipegang oleh seorang, apabila kayu yang pertama telah lewat ditarik, maka kayu yang tertinggal tadi diambil dan diletakkan kembali di depan kayu yang sedang ditarik itu. Apabila salah satu kayu landasan itu sangkut, maka pemukulan canang yang dilakukan oleh wanita-wanita tadi harus diperkuat dan dipercepat serta sorakan anak-anak menjadi lebih bergemuruh. Tujuan pemukulan canang dan sorakan ini agar makhluk halus yang mungkin telah mencoba menghalangi pengangkutan kayu itu menjadi takut dan lari. Selain itu, pemukulan canang dan sorakan itu juga bertujuan untuk memberikan semangat kepada para penarik, dan juga agar mereka merasamalu jika bagian landasan yang dipegangnya sering tersangkut.
Jumlah rotan (tali pengikat) biasanya bersesuaian dengan jumlah belah 4 (kampung) yang hadir, sebab setiap belah memegang sebuah rotan pengikat. Jika jumlah belah yang hadir lebih banyak, maka kayu-kayu tersebut dapat ditarik sampai dua atau tiga kayu sekaligus. Dalam hal ini tidak dibenarkan menempati tali rotan yang telah dipegang oleh orang lain, karena hal tersebut bisa menimbulkan bentrokan antar belah (kampung). Upacara ini biasanya dipimpin oleh seorang raja (reje) yang
mengepalai belah secara keseluruhan.Untuk daerah Aceh bagian pesisir, seperti Aceh Besar, Aceh Utara, Aceh Barat dan Pidie, penebangan dan penarikan kayu harus ditentukan waktunya, tidak boleh pada waktu air sedang pasang, sebab apabila ditebang pada waktu air sedang pasang dapat menyebabkan kayu-kayu tersebut mudah dimakan rayap atau “bubuk”. Karenanya di daerah pesisisr setiap penebangan kayu untuk
bahan perumahan terlebih dahulu harus membaca dan mengetahui dengan jelas perjalanan dan pergantian bulan, sehingga mudah mengetahui kapan air pasang dan kapan pula surutnya.5

2. Upacara pada Saat Mendirikan Rumah Sebagaimana pada upacara pengambilan bahan dari hutan, maka pada upacara pendirian rumoh Aceh, juga diadakan penyembelihan hewan korban, disertai dengan acara makan bersama dengan mengundang para ahli famili
terdekat, karib kerabat beserta masyarakat sekitarnya. Dalam acara tersebut diadakan pula pembacaan do’a yang biasanya dipimpin oleh Tgk.Imam Meunasah atau Tgk. Imam Mesjid. Do’a ini merupakan sikap penyerahan diri (tawakal) kepada Allah SWT, serta memohon agar pembangunan rumah itu dapat berjalan dengan baikdan diharapkan dapat
membawa berkah, ketenangan serta ketentraman bagi para penghuninya.6
Setelah selesai acara makan bersama dan pembacaan do’a, barulah orang yang hendak mendirikan rumah tersdebut menyampaikan maksud dan tujuannya kepada para undangan yang hadir. Kemudian segala persoalan selanjutnya yang menyangkut tentang hari pelaksanaan mendirikan rumah itu diserhkan kepada Kepala Desa atau “Keuchik” untuk menentukannya.
Dalam upacara mendirikan rumoh Aceh ada dua kegiatan penting yang harus dilakukan. Pertama upacara “Tanom Kurah” dan yang kedua upacara“Peusijuk”.
Upacara “Tanom Kurah” adalah sejenis upacara yang kalau sekarang disebut upacara “peletakan batu pertama”. Disebut upacara“Tanom Kurah”, karena dalam upacara ini dilakukan penanaman kurah persis di tengah-tengah tempat di mana rumah akan dibangun. Penanaman kurah dilakukan pada malam hari, tepat pada pukul 24.00 WIB. Hal ini
menurut kepercayaan orang Aceh dapat membawa ketentraman dan kebahagiaan bagi penghuni rumah itu, terutama sekali menyangkut tentang kenyamanan tidur pada malam hari.Sedangkan upacara “Peusijuk”dilaksanakan pada pagi harinya oleh si pemilik rumah sendiri atau bisa juga diwakili oleh Tgk. Imam Meunasah. Kegiatan pokok dalam upacara ini adalah penepung tawaran seluruh lokasi tempat di mana rumah itu akan dibangun, sekaligus juga dilaksanakan penepung tawaran terhadap bahan-bahan perlengkapan rumah yang telah dipersiapkan sebelumnya ditempat itu.
Alat-alat yang dipergunakan dalam penepung tawaran terdiri dari “On sisejuk” atau (sineujuk) disebut juga “Daun Sidingin”,yaitu sejenis rumput yang daunnya agak lebar dan dingin, anak pohon pisang dicampur dengan bunga, ditambah dengan rumput atau “Naleung”yang dinamakan “Sambo”, yaitu sejenis rumput yang biasanya tumbuh dengan akar serabut yang sangat kuat dan sukar dicabut. Rumput ini dipergunakan langsung dengan akar-akarnya. Semua alat-alat tersebut diikat menjadi satu kemudian dimasukkan ke dalam sebuah ayan kecil yang diisi air secukupnya. Pada tempat yang terpisah disediakan juga padi dan beras secukupnya.
Penepung tawaran dilakukan dengan cara mencelupkan bagian akar dari alat-alat yang telah diikat menjadi satu tadi ke dalam air itu, kemudian memercikkannya ke sekeliling tempat lokasi di mana rumah itu akan dibangun.Penyiraman dilakukan mulai dari
“Pancang Kurah” tadi terus berputar ke kanan sampai seluruh lokasi itu terkena siraman (percikan) air.Setelah selesai penepung tawaran,
maka “On Sineujuk” (daun sidingin), “Naleung Sambo” beserta anak pohon pisang tadi ditanam sekalian di bagian paling pinggir sebelah utaradari rumah itu.
Tujuan upacara “Peusijuk” ini adalah agar suasana rumah itu selalu sejuk dan nyaman. Upacara ini biasanya dilaksankan pada pagi hari, yaitu sebelum matahari tinggi. Ini melambangkan suatu kepercayaan bahwa waktu pagi itu sangat baik untuk mendatangkan rezekibagi penghuni rumah tersebut.7 Selanjutnya, pada tiang Putri atau “Tameh Putro” ditanam sebuah periuk tanah (Kanot Tanoh). Periuk tanahini di beberapa daerah di Aceh pada zaman dahulu sering diisi dengan emas seberat ½ sampai 1 mayam beserta perak, ini terutama sekali berlaku di daerah Linge atau (Lingga), yaitu suatu daerah yang terletak
di perbatasan antara Aceh Utara dengan Aceh Tengah. Akan tetapi belakangan ini hal tersebut sudah jarang bahkan tidak ada lagi dilakukan oleh masyarakat Aceh. Sekarang yang masih banyak dilakukan hanya penanaman “Kanot Tanoh” itu saja dan diisi dengan kunyit dan padi atau beras secukupnya. Penanaman “kanot tanoh” ini bertujuan agar
kehidupan penghuni rumah tersebut selallu berada dalam berkecukupan, terutama dalam hal terpenuhinya kebutuhan pokok (primer).
Setelahsemua upacara “Peusijuk” itu selesai, barulah dimulai mendirikan tiang-tiang yang sebelumnya telah dirangkai sesuai menurut posisi dan letaknya masing-masing. Untuk mempermudah mendirikan tiang-tiang tersebut dipancangkan kayu sejajar dengan tiang yang akan dinaikkan itu. Pada bagian atas pancang itu diikatkan sepotong kayu bulat dengan posisi membujur (horizontal) gunak meletakkan tali (rotan) penariktiang. Jadi fungsi kayu yang dipancang dan kayu bulat yang membujur diatasnya adalah sebagai alat penggerak guna mempermudah mendirikantiang-tiang rumah itu.“Raja” tetap berada di atas untuk memimpin dan mengarahkan anggota penarik selama tiang-tiang yang lain belum
selesai semuanya dinaikkan. Setelah berhasil tiang dinaikkan barulah dipasang “pasak” atau (baji) atau “Ruk”, “Lheu”, “Gase”. Kemudian barulah “Raja” turun ke bawah. Dengan turunnya “Raja” berarti upacara pendirian rumah itu dianggap telah selesai. Untuk pembangunan selanjutnya diserahkan kepada tukang atau kepada keluarga yang akan
menduduki rumah tersebut.8

3. Upacara Adat Ketika Menempati Rumah Baru
Setelah bangunan rumah selesai, masih ada dua upacara lagi yang harus dilaksankan oleh pemilik rumah, yaitu : “Upacara Peusijuk Utoh” (tukang) dan “Upacara Kenduri E’ Rumoh Baro” atau (upacara menempati rumah baru).9 Upacara “Peusijuk Utoh” (penepung tawaran tukang) adalah sejenis upacara yang dilaksanakan oleh si pemilik rumah.Upacara
ini mengandung berbagai arti, antara lain adalah sebagai ucapan terimakasih si pemilik rumah kepada tukang yang telah mengerjakan rumahnya dengan baik hingga siap untuk ditempati. Rasa terimakasih itu biasanya dinyatakan secara simbolis dalam bentuk penyerahan seperangkat pakaian seperti baju, celana, kain sarung dan kopiah beserta hidangan makanan ala kadarnya kepadanya. Dalam upacara ini biasanya diselesaikan juga segala hal ihwal yang menyangkut tentang perongkosan dalam pembuatan rumah tersebut. Zaman dulu ongkos membuat rumah biasanya dibayar dalam bentuk padi, namun sekarang sistem pembayaran ini umumnya telah memakai uang. Jadi upacara ini selain mengandung arti ucapan terimakasih dari si pemilik rumah kepada “Utoh”, juga merupakan semacam acara serah terima perongkosan, baik serah terima perongkosan dari si pemilik rumah kepada “Utoh”, maupun serah terima bangunan dari tukang atau “Utoh” kepada si pemilik rumah.
Sedangkan “Upacara Kenduri E’Rumah Baro” adalah semacam upacara syukuran yang
diselenggarakan si pemilik rumah karena bangunan itu telah selesai. Upacara ini biasanya dilaksanakan setelah selesai shalat magrib dirumah baru yang hendak ditempati itu.Dalam upacara kenduri ini diundang semua pihak yang dianggap telah ikut berjasa dalam membuat
rumah tersebut, seperti “Utoh” (tukang), Bapak Keuchik (Kepala Desa),Teungku Imam baik Imam Meunasah maupun Imam Mesjid beserta seluruh kerabat, ahli famili beserta seluruh masyarakat. Tata cara yangdilaksanakan dalam upacara ini sama halnya dengan upacara lainnya, yaitu didahului dengan acara makan bersama, kemudian baru dilakukan
dengan ucapan terimakasih dari si pemilik rumah kepada semua pihak yang ikut membantu dalam mendirikan rumah tersebut. Upacara ini diakhiri dengan pembacaan do’a yang biasanya dipimpin oleh Teungku Imam.

avatar
Hidayatullah
Admin Utama
Admin Utama

Jumlah posting : 48
Join date : 14.04.09
Age : 46
Lokasi : Ulee Gle-Pidie Jaya

Re: UPACARA ADAT MEMBANGUN RUMAH: SEBUAH KEARIFAN MASYARAKAT ACEH

Post by Hidayatullah on Thu 16 Apr 2009 - 17:56

4. Keterkaitan dengan adat lain
Kedudukan rumah dalam
lingkungan keluarga pada dasarnya berkolerasi dengan kebiasaan menetap
setelah kawin. Pada masyarakat Aceh, khususnya Aceh Besar dan Pidie,
berlaku kebiasaan bahwa pasangan suami-istri muda menetap di lingkungan
keluarga pihak istri.10 Kebiasaan menetap secara demikian berlangsung
hingga tiba saatnya pasangan muda itu dipisahkan dan membentuk keluarga
batih sendiri. Pemisahan itu biasanya dilakukan dengan suatu upacara
yang disebut “Peumeukleh” (pemisahan). Dengan disaksikan oleh menantu
dan tetua kampung serta beberapa anggota
kerabat lainnya, orang tua
istri memberikan sejumlah harta yang jenis dan nilainya tergantung
kepada kemampuannya, kepada anak perempuan yang hendak dipisahkan itu.
Pemberian itu disebut “Peunulang” atau pemberian.11 Bagi mereka yang
mampu pemberian itu meliputi rumah tempat tinggal, tanah sawah, kebun
kelapa, ternak, perhiasan serta peralatan rumah tangga lainnya.
Penyaksian oleh menantu ketika pemberian itu berlangsung terutama
dimaksudkan supaya ia ikut memelihara atau merawatnya, terutama rumah
tempat tinggal.
Dalamkondisi seperti itu, kedudukan suami dalam
lingkungan keluarga sebetulnya tidak lebih dari tamu di rumah istrinya.
Ia tidak leluasa berada di rumah istrinya. Akan tetapi dalam realita
masih ada lagi lelaki lain yang lebih menentukan dalam pengambilan
keputusan keluarga,yaitu mertua. Karenanya, bukanlah pemandangan yang
aneh jika pada siang hari suami muda lebih banyak berada di luar rumah
ketimbang berada
bersama istrinya di rumah. Status sebagai kepala
keluarga baru benar-benar dapat dirasakan setelah adanya pemisahan.
Biasanya saat untuk itu, baru dapat dirasakan setelah suami-istri muda
itu mendapatkan kelahiran anak pertama, meskipun dalam kenyataannya ada
yang lebih lama dari itu. Salah satu upaya yang bisa dilakukan oleh
suami
muda untuk mendapatkan status sebagai suami yang sesungguhnya adalah
dengan cara pergi merantau. Apabila ia sudah cukup berhasil mendapatkan
status sosial ekonomi yang lebih baik di rantau serta telah mampu
membeli atau menyewa rumah tempat tinggal, dia dapat memboyong istrinya
untuk hidup bersama di rantau, meskipun saat untuk pemisahan dari
keluarga luas orang tua istrinya belum tiba. Dalam kehidupan
bersama
di rantau, suami dapat menempatkan dirinya sebagai kepala keluarga yang
sesungguhnya, sebab telah jauh dari pengaruh dan baying-bayang
mertuanya. Lingkungan tempat tinggal mereka yang baru sudah jauh
berbedadengan lingkungan semula keluarga istrinya. Kebiasaan memboyong
istri merantau boleh dikatakan menonjol. Semenjak tahun enam puluhan,
yaitu ketika fasilitas transportasi dan perjalanan di kota mulai
membaik. Pada mulanya yang memboyong istri merantau adalah para pegawai
negri sipil. Kemudian kebiasaan ini meluas kepada pedagang serta
pekerja lainnya. Dalam hal ini faktor yang paling menentukanadalah
kondisi ekonomi. Selain dengan cara merantau, untuk membentuk keluarga
batih yang berdiri sendiri, suami sebetulnya dapat pula memboyong
istrinya ke lingkungan kerabat orang tuanya, baik untuktinggal bersama
keluarga batih orang tua suami atau dengan cara mendirikan rumah baru.
Akan tetapi masyarakat Aceh, khususnya Aceh Besar dan Pidie memandang
hal itu tercela, karena dapat menimbulkan aib di pihak keluarga istri
serta menimbulkan tanda Tanya di hati mereka, apa kekurangan dan
keburukan mereka dan apa pula kelebihan pihak kerabat suami sehingga
mereka (pengantin baru) itu tidak mau menetap di tempat mereka. Hal ini
dapat menimbulkan ketegangan dan percekcokkan di antara kedua belah
pihak, yaitu antara keluarga batih pihak istri dan keluarga batih pihak
suami. Bahkan tindakan yang demikian dapat menyebabkan istri tidak
diberikan harta “Peunulang” oleh orang tuanya.
Apabila dikaji lebih
mendalam, maka pemberian harta “Peunulang” terutama bertujuan agar si
istri tetap berada di lingkungan kerabatnya (bersama orang tuanya),
walaupun berdasarkan ketentuan hokum bahwa setelah perkawinan istri
beralih ke dalam tanggung jawab suami. Keselarasan hubungan kekerabatan
akan terwujud apabila apa yang
diinginkan suami dengan apa yang
seharusnya dilakukan. Ini berarti bahwa walaupun berdasarkan ketentuan
hokum istri seharusnya beralih ke dalam tanggung jawab suami, namun
mereka (orang tua istri) menginginkan supaya mereka tetap berada di
lingkungan keluarganya sendiri. Keinginan yang demikian tidaklah
terbatas pada pandangan suami-istri itu semata-mata, tetapi juga kepada
anak-anak yang mereka lahirkan. Atau dengan ungkapan lain bisa
dinyatakan bahwa ada kecenderungan pada orang Aceh untuk berupaya
mengabsahkan perilaku adat dengan tanpa mengabaikan ketentuan hokum
(dalam hal ini adalah ketentuan hokum Islam).
Di beberapa kota
besar di Aceh, khususnya Pidie dan Aceh Besar, kecenderungan untuk
mempertahankan anak perempuan agar tetap berada di lingkungan
kerabatnya sendiri masih terlihat pada sebagian pendatang dari desa.
Namun karena berbagai keterbatasan yang dihadapi, kecenderungan yang
demikian kelihatannya mulai pudar. Faktor penyebab
yang terpenting
antara lain keterbatasan rumah tempat tinggal dan biaya hidup yang
relatif lebih tinggi. Lokasi perumahan di kota relatif lebih sempit
dibandingkan dengan di desa. Kemungkinan perluasan tempat tinggal juga
relatif terbatas, karena pekarangan rumah juga umumnya terbatas
luasnya. Karenanya, untuk membentuk keluarga batih baru yang
terpisah
dari orang tua memerlukan lokasi tempat tinggal yang lain yang berada
pada lingkungan yang berbeda atau relatif jauh terpisah. Biaya hidup
yang relatif tinggi sering merupakan beban yang amat berat dirasakan
untuk bisa ditanggung oleh seorang kepala keluarga. Di satu pihak,
berbagai keterbatasan yang dihadapi itu dapat memudarkan
ketentuan
adat bahwa anak perempuan seharusnya tetap tinggal bersama orang
tuanya, tetapi pada pihak lain keterbatasan tersebut memberi peluang
bagi suami untuk membentuk keluarga batih yang berdiri sendiri.12

Kearifan Lokal
Menurut
Geertz, kebudayaan pada dasarnya terdiri dari pola-pola pengetahuan,
penilaian dan simbol.Pertama pola-pola pengetahuan disebut juga dengan
pola bagi yangartinya suatu pengetahuan yang ada dikepala manusia untuk
membentuk gejala sosial (mis. Tingkah laku atau benda-benda) di alam
nyata, sebagai contoh bentuk bangunan yang akan didirikan. Pola-pola
bangunan telah ada dalam pengetahuan si arsitek sedangkan bentuk
bangunan secara nyatanya belum terjadi. Atau dalam bentuk tindakan
adalah
tindakan-tindakan apa yang akan dilakukan berkenaan dengan gejala yang dihadapi.
Kedua,
Pola-pola penilaian disebut juga dengan pola dari atau suatu gejala
yang tampak nyata diberi penilaian dan dimasukkan kedalam penilaian
budaya diberikan suatu pola tertentu, jadi suatu gejala yang tampak
nyata diartikan dan diterjemahkan (diinterpretasi).
Gejala-gejala
yang tampak nyata yang ada di luar tubuh manusia dipahami dan diberi
penilaian, sehingga manusia dapat memberikan penilaian atas gejala yang
tampak sebagai sesuatu yang baik atau buruk, dapat dimakan atau tidak,
dsb. Bentuk ketiga adalah simbol, artinya bagaimana seseorang dari
kebudayaan tertentu menghubungkan antara pola pengetahuan dan pola
penilaian dengan simbol-simbol tertentu, sehingga kenyataan yang ada
diterjemahkan dan dipahami menurut kebudayaan tertentu. Dan ditanggapi
dengan suatu tindakan tertentu berkaitan dengan gejala yang tampak
tadi.13
Perwujudan kebudayaan melalui pengorganisasian antara pola
bagi dan pola dari yang berbentuk simbol akan tampak sebagai suatu
lingkungan (dapat berupa arsitektur rumah,
pola permukiman, kendaraan, model-model mata pencaharian dsb).
Simbol-simbol
inilah yang kemudian diinternalisasikan kepada orang lain (generasi
selanjutnya) agar nilai-nilai budaya yang ada menjadi terkelola dan
dapat menyesuaikan dirinya dengan segala perubahan yang terjadi di
lingkungan hidup yang dihadapi individu-individunya sebagai anggota
masyarakat.
Gambaran dari adat upacara dalam membangun rumah pada
masyarakat Aceh merupakan manifestasi dari perwujudan suatu hasil dari
suatu proses pengambilan keputusan oleh banyak pihak dalam kurun waktu
tertentu. Pengaruh dan bentuk-bentuk kondisi
sosial-ekonomi,
sosial-politik dan sosial-budaya yang berbeda yang melatar-belakangi
proses dalam waktu pembentukan lingkungan tersebut, memberikan warna
dan ciri tersendiri pada wujud fisiknya. Secara lebih nyata, hasil
pengolahan pemahaman dan interpretasi terhadap lingkungan hidup, akan
diwujudkan kedalam bentuk tindakan (cultural behavior) dan biasanya
terwujud juga dalam bentuk benda-benda budaya (cultural
artifact).
Dalam konteks ini dapat kita lihat pada upacara adat membangun rumah
pada masyarakat Aceh seperti telah dipaparkan pada bagian di atas.
Misalnya, tindakan yang diboleh dan tidak dibolehkan (larangan/
pantangan). Pemilihan bahan untuk membangun rumah atau pengaturan
pembangunan rumah bagi anggota masyarakat yang baru.Rumah
yang
dibangun oleh masyarakat Aceh tidak hanya dipandang sebagai sebuah
kebudayaan materi semata, tetapi juga dapat dipandang sebagai interaksi
manusia dengan lingkungan hidup yang dihadapinya. Selain itu, hasil
karya manusia yang berbentuk benda-benda materi pada dasarnya juga
berkaitan dengan peradaban (civilization) yang melingkupi manusia
tersebut. Lingkungan sebagai suatu area yang harus dipahami mendorong
manusia untuk menggunakan teknologinya guna kepentingan pemenuhan yang
kemudian mendorong bekerjanya aspek-aspek lain dalam kebudayaan seperti
kekerabatan, kepercayaan, kesenian, struktur sosial. Yang kesemuanya
itu untuk pemenuhan kebutuhan manusia secara biologi, sosial dan
psikologi.
Akhirnya, segala simbol-simbol pengetahuan yang
terdapat dalam upacara adat pembangunan rumah pada masyarakat Aceh
terintegrasi dengan sistem teknologi, dan struktur sosial. Kesemua hal
itu merupakan satu perangkat kognitif manusia sebagai sebuah
kebudayaan.
Seringkali apabila diperhatikan kebudayaan ini memiliki nilai-nilai
kearifan di dalam mengelola agar lingkungan tidak cepat rusak/punah.

Penutup
Dalam pembangunan rumah masyarakat Aceh
banyak faktor yang dilibatkan, yang meliputi aspek tangible dan
intangible. Kedua aspek sangat diperhatikan. Lebih-lebih pada pada
masyarakat yang masih memegang teguh adat-istiadat. Mereka menjadikan
adat-istiadat sebagai pedoman atau penuntun. Apabila dikaji, mereka
memiliki kearifan lingkungan sehingga seringkali lingkungan tetap
lestari. Untuk itu, kita jarang sekali mendengar terjadinya bencana
alam yang terkait dengan lingkungan di kalangan masyarakat seperti
ini.14 Untuk itu, kita harus terus menumbuhkembangkan kearifan
lingkungan yang kita punyai. Apabila kearifan kita telah hilang
bencanalah yang akan kita peroleh.
avatar
Hidayatullah
Admin Utama
Admin Utama

Jumlah posting : 48
Join date : 14.04.09
Age : 46
Lokasi : Ulee Gle-Pidie Jaya

Re: UPACARA ADAT MEMBANGUN RUMAH: SEBUAH KEARIFAN MASYARAKAT ACEH

Post by Hidayatullah on Thu 16 Apr 2009 - 17:58

Profile Penulis
Agus Budi WibowoTerlahir di Jakarta tetapi kemudian
merantau dari satu kota ke kota lain. Karenanya pendidikan tidak pada
satu kota, mulai dari Jakarta, Gombong, dan Yogyakarta.Pendidikan
terakhir adalah Program Pascasarjana UGM tahun 1994. Sebelumnya pernah
bekerja pada Biro Research swasta. Bertugas di Aceh sejak tahun 1996.
Aktivitas sehari-hari adalah peneliti madya (IV/c) pada Balai
Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh. Pada tahun 2008
menerima penghargaan sebagai penulis buku bernuansa Keacehan dari Badan
Arsip dan Perpustakaan Prov. NAD. Aktif menulis artikel di media massa,
penelitian dengan Bappeda Kab/kota/prov, dan sebagai penulis di
dinas-dinas.

Sponsored content

Re: UPACARA ADAT MEMBANGUN RUMAH: SEBUAH KEARIFAN MASYARAKAT ACEH

Post by Sponsored content